Saman Islam: Restoran Halal di Chatuchak Weekend Market

Krubuk krubuk, perut kami berbunyi. Rupanya pad thai di Museum Erawan belum cukup. Nampaknya kami memang orang Indonesia tulen, belum dibilang makan kalau belum makan nasi πŸ˜€

Sesuai itinerary yang sudah disusun, sehabis dari Museum Erawan, kami bergegas menuju Chatuchak Weekend Market, atau juga dikenal dengan nama JJ Market. Bukan hanya sekedar untuk jalan-jalan, niat kami melebihi itu. Yap, kami mencari restoran halal untuk mengamini perut kami yang sudah minta diperhatikan sedari tadi.

Dari Museum Erawan, kami memesan sebuah taksi online menuju JJ Market. Tak terlalu jauh, perjalanan hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit. Sesampainya di sana, kami berkeliling sebentar lalu mencari tempat shalat. Menurutku, walaupun populasi muslim di Thailand tak banyak, tapi Thailand adalah negara yang muslim-friendly untuk dikunjungi. Walaupun tak luas, tapi ada sebuah mushola di dalam lingkungan JJ Market.

Tak mau membuat perut lama menunggu, setelah shalat, kami segera mencari keberadaan restoran halal yang sebelumnya telah kami cari di pencarian google. Saman Islam namanya. Berbekal google maps, kami berjalan menelusuri pertokoan di JJ Market menuju Saman Islam. Tak sulit menemukannya, apalagi dengan bantuan peta, betul?

Kami segera mencari tempat duduk. Yaa, tempat duduk di dalam penuh, jadi kami duduk di luar saja. Tak lama kami memilih menu, pasalnya aku pribadi sudah menentukan menu yang ingin kumakan jauh dari sebelum tiba di Thailand πŸ˜€

Tom yum, langsung kupesan tanpa berpikir panjang.

Aku selalu penasaran, ingin tahu bagaimana rasa tom yum yang autentik asli Thailand. Tapi memang sebagai muslim ada batasan, tak bisa sembarang makan. Jadi harus riset terlebih dahulu untuk menemukan tom yum halal di Thailand. Dan google mempertemukan kami dengan Saman Islam.

Setelah menunggu, akhirnya pesananku datang. Semangkuk tom yum dan sepiring nasi. Tak disangka, porsinya duuh, bisa untuk dua orang! Segera kuseruput kuahnya yang berwarna putih dengan minyak berwarna kemerahan itu. Walapun berwarna merah, tapi kuahnya tak pedas. Kalau ingin pedas bisa ditambahkan bubuk cabai yang disediakan. Tom yum ini berisi sea food, ada kepitingnya juga. Dan rasanya memang seenak itu, bikin nagih. The best tom yum I’ve ever had. Mungkin karena memang itu yang pertama dan satu-satunya tom yum autentik Thailand yang pernah kucoba. Seporsi tom yum dibanderol dengan harga 300 baht, tahun 2018. Lumayan mahal memang, namun mengingat seporsinya bisa untuk dua orang, menurutku boleh laah.

Tapi bicara soal autentik, aku tak tahu apa betul itu 100% autentik. Karena dibuat halal, bisa jadi ada bahan yang seharusnya digunakan tapi tidak bisa digunakan dalam tom yum yang kumakan. Yang terpenting, aku makan di Thailand dan dibuat oleh seorang warga Thailand, sudah cukup autentik bukan? πŸ˜€ . Mengintip dari artikel sebelah, pemilik restoran ini adalah Ibu Fatima Sungtong. Yap, seorang perempuan paruh baya yang menggunakan ‘sorban’ berwarna biru di kepalanya. Beliau lah yang membuatkan pesanan kami.

Temanku memesan nasi biryani dengan ayam goreng. Rasanya lumayan enak, bisa jadi alternatif untuk yang tak suka sea food. Di Saman Islam memang bukan hanya menjual makanan khas Thailand saja, ada makanan barat, timur tengah, dan lainnya juga. Seporsi nasi biryani dengan ayam goreng dihargai 150 baht.

Menurutku pribadi, Saman Islam adalah restoran yang layak untuk dicoba, terlebih lagi bagi pengunjung muslim yang ingin mencoba makanan Thailand yang autentik. Apalagi kalau perut sudah konser, langsung aja deeh, sikat! πŸ˜€

Published by dwitunggadewi

Software developer, blogger, travel enthusiast

One thought on “Saman Islam: Restoran Halal di Chatuchak Weekend Market

Leave a comment